Kumpulan Kutipan Novel 1 Ufuk 7 Warna
Gema Kata
Berhadapan dengannya selalu berarti bersiap untuk hal-hal yang belum pernah terpikir olehku.
Novel 1 Ufuk 7 Warna
Saif Lilardh
Bagi Purnomo, atap pesantren ini adalah sebuah wilayah yang ia anggap sebagai negeri kecil di puncak pesantren. Dari sini, awan tampak bergerak lepas tanpa halangan. Di tempat inilah segala urusan, dari yang remeh hingga yang penting, dibicarakan.
Novel 1 Ufuk 7 Warna
Saif Lilardh
Kubiarkan ranjang itu kosong agar Sutarya tetap punya alasan untuk kembali.
Novel 1 Ufuk 7 Warna
Saif Lilardh
Misteri itu terkunci lagi — dan kali ini terasa lebih dalam.
Novel 1 Ufuk 7 Warna
Saif Lilardh
Tidak kusadari saat itu bahwa ada satu hal lagi yang turut kubawa. Sesuatu yang tidak kumasukkan ke dalam tas, tapi ikut melangkah bersamaku tanpa izin: satu nama yang belum selesai kusimpan.
Novel 1 Ufuk 7 Warna
Saif Lilardh
Awal yang tidak mewah untuk sebuah keputusan besar. Ini bukan perjalanan wisata. Ini perjalanan yang tidak bisa kuulang dari awal.
Novel 1 Ufuk 7 Warna
Saif Lilardh
Dari semua yang ada di kamar ini — kitab-kitab tebal, buku pelajaran, pakaian yang terlipat rapi — hanya dua yang kumasukkan ke dalam tas: buku catatan falakku dan kitab rumusnya. Bukan karena yang lain tidak berharga. Tapi karena hanya keduanya yang terasa seperti milikku — bukan pinjaman dari kurikulum, bukan titipan dari pesantren; murni hasil penasaranku sendiri.
Novel 1 Ufuk 7 Warna
Saif Lilardh