Novel pertamaku kutulis dengan penuh emosi. Marah dan kecewa kutuangkan semuanya ke dalam satu naskah. Merasa diperlakukan tidak adil oleh sesuatu yang kuyakini benar. Setelah puas meluapkan segalanya, kukirimkan ke penerbit.
Ditolak.
Naskah belum layak terbit.
Tahun 2011, hati sudah mulai berdamai. Ketika muncul Lomba Novel Republika, naskah kutulis ulang dari sudut pandang yang berbeda. Judulnya waktu itu "7 Warna Pelangi". Masuk finalis 50 besar, lalu gugur di seleksi 25 besar. Ada penerbit yang bilang mempertimbangkan untuk menerbitkan. Kupercaya janji itu.
Tidak ada kabar lagi.
Tapi kabar sudah terlanjur tersiar. Bahwa aku punya novel yang akan diterbitkan. Sehingga setiap bertemu teman, pertanyaannya selalu sama: "Novelnya sudah terbit?"
Pertanyaan yang lama-lama membuatku enggan bersilaturahmi.
Akhirnya naskah kusimpan. Satu tahun. Tiga tahun. Tujuh tahun. Tiga belas tahun.
Setiap kali naskah kubuka, segera kututup lagi. Selalu ada alasan yang terasa masuk akal — terlalu sibuk, belum sempat, naskahnya masih kurang bagus.
Tapi kalau jujur, alasan itu bukan alasan yang sebenarnya.
Yang sebenarnya: aku tidak cukup berani.
Bukan takut ditolak penerbit. Bukan takut dikritik pembaca. Tapi tidak berani jujur kepada diri sendiri — mengapa aku menulis novel ini.
Aku tidak punya jawaban. Jadi aku berhenti. Lagi dan lagi.
Tiga belas tahun adalah waktu yang panjang. Banyak yang berubah — pekerjaan, keluarga, cara pandang. Hati yang perlahan berdamai dengan banyak hal.
Tapi satu hal tidak berubah: kenangan tentang Negeri Atap Awan.
Sebuah kamar di atas atap Pesantren Persatuan Islam Garut. Tawa yang tidak perlu alasan. Cerita-cerita yang rasanya terlalu sayang untuk tidak dibagikan. Kenangan itu tidak pernah pergi. Ia hanya menunggu.
Suatu hari aku menyadari sesuatu yang sederhana: Bapa dan Mamah sudah semakin tua.
Novel ini berlatar keputusan pindah pesantren yang mereka izinkan dengan kepercayaan penuh. Bapa yang dulu berdiri di tepi sawah mencangkul di bawah panas terik — demi membiayai perjalananku ke Garut. Dan novel ini belum pernah selesai.
Saat itulah aku sadar: aku tidak menulis untuk dikenal. Aku menulis untuk berbakti — untuk mengenang perjuangan Bapa dan Mamah dalam sebuah karya yang bertahan lama.
Niat itu berbeda. Dan dengan niat yang berbeda, tangan akhirnya bisa bergerak.
Tiga belas tahun memberi sesuatu yang tidak bisa dibeli: jarak.
Jarak membuatku bisa membedakan mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya kukira penting. Membuatku bisa memotong kalimat-kalimat yang indah tapi tidak diperlukan. Dan yang paling penting — membuatku bisa jujur bahwa novel ini bukan tentang kehebatanku sebagai penulis.
Melainkan tentang kehebatan orang-orang yang pernah hadir dalam hidupku.
Purnomo, jenderal kami, kukisahkan apa adanya. Rais yang selalu punya rencana yang tidak pernah ia jelaskan sampai terlaksana. Zaki yang tidur di kelas tapi bangun paling awal untuk tahajud. Taufik yang masuk pesantren semata karena mimpi siang bolong.
Mereka yang membuat novel ini layak dibaca. Bukan aku.
Aku butuh tiga belas tahun untuk menemukan alasan yang tepat. Kini, novel ini kuberi judul 1 Ufuk 7 Warna.
